Dunia film dan hiburan kembali dihebohkan dengan perdebatan yang dipicu oleh sebuah trailer. Kali ini, giliran trailer terbaru film Masters of the Universe yang menjadi pusat perhatian, bukan karena aksi laga atau visual spektakulernya, melainkan karena sebuah referensi terkait kata ganti (pronoun) karakter ikonik, He-Man.
Klip singkat yang menurut banyak penonton hanyalah sebuah lelucon ringan, justru berhasil menyulut amarah di kalangan audiens konservatif. Mereka menuduh film fantasi petualangan ini telah "terkontaminasi" oleh apa yang mereka sebut sebagai "virus pikiran woke", sebuah istilah yang sering digunakan untuk merujuk pada isu-isu kesadaran sosial dan inklusivitas yang dianggap terlalu berlebihan.
Mengapa Lelucon 'Pronoun' He-Man Jadi Masalah?
Insiden ini berpusat pada sebuah dialog atau adegan dalam trailer yang menyinggung kata ganti He-Man. Meskipun detail spesifik lelucon tersebut belum sepenuhnya terungkap secara luas di luar konteks trailer yang memicu perdebatan, inti dari kemarahan datang dari interpretasi bahwa referensi tersebut adalah upaya untuk memasukkan agenda "woke" ke dalam sebuah waralaba klasik yang dicintai banyak orang. Bagi sebagian kalangan konservatif, memasukkan pembahasan tentang kata ganti, terutama di karakter maskulin ikonik seperti He-Man, dianggap sebagai bentuk politik identitas yang tidak relevan atau bahkan merusak nilai-nilai tradisional.
Di sisi lain, banyak penonton dan kritikus berpendapat bahwa reaksi ini terlalu berlebihan. Mereka melihat referensi tersebut hanya sebagai sentuhan humor modern yang ringan dan tidak bermaksud untuk mengubah esensi karakter atau waralaba. Ini bukan kali pertama waralaba populer menghadapi kritik serupa, di mana setiap perubahan atau penambahan elemen yang dianggap "modern" seringkali berujung pada perdebatan sengit antara penggemar lama dan penonton baru.
Detail Film 'Masters of the Universe' yang Sedang Dinanti
Terlepas dari kontroversi trailer-nya, film Masters of the Universe yang baru ini merupakan upaya ambisius untuk menghidupkan kembali kisah Pangeran Adam yang berubah menjadi He-Man yang perkasa untuk melindungi Eternia dari Skeletor. Berikut adalah beberapa detail penting mengenai produksi film ini:
| Judul | Genre | Pemain Utama | Sutradara |
|---|---|---|---|
| Masters of the Universe | Fantasi, Petualangan, Laga | Nicholas Galitzine (sebagai He-Man/Pangeran Adam) | Travis Knight |
Film ini dijadwalkan akan membawa kembali aksi epik, pertarungan magis, dan karakter-karakter ikonik yang telah memikat penggemar selama puluhan tahun sejak pertama kali muncul sebagai lini mainan, kemudian serial animasi populer. Nicholas Galitzine, yang akan memerankan He-Man, diharapkan dapat memberikan interpretasi segar terhadap pahlawan Eternia ini.
Warisan He-Man dan Tantangan Adaptasi Modern
He-Man adalah salah satu ikon budaya pop paling abadi, melambangkan kekuatan, keberanian, dan keadilan. Lahir dari lini mainan Mattel pada tahun 1980-an, waralaba ini telah berkembang menjadi serial televisi, komik, dan bahkan film live-action pada tahun 1987 yang dibintangi Dolph Lundgren. Setiap upaya untuk mengadaptasi kembali cerita ini selalu dihadapkan pada tantangan besar, yaitu bagaimana tetap setia pada materi sumber sambil juga membuatnya relevan bagi audiens kontemporer.
Hal ini juga mengingatkan kita pada bagaimana adaptasi sebuah cerita yang sudah dikenal luas selalu menjadi sorotan, seperti yang pernah kami bahas dalam artikel 'Dari Halaman ke Layar: Buku-buku Besar Januari Ini Siap Memantik Imajinasi Nontonyo TV!'. Setiap detail, besar maupun kecil, bisa memicu berbagai reaksi, apalagi jika menyentuh aspek-aspek yang dianggap esensial oleh penggemar.
Perang Budaya di Ranah Hiburan
Kontroversi seputar Masters of the Universe ini hanyalah salah satu dari banyak contoh "perang budaya" yang kini sering terjadi di industri hiburan. Film, serial televisi, dan bahkan video game sering menjadi medan pertempuran ideologi, di mana setiap keputusan kreatif bisa ditafsirkan sebagai pernyataan politik. Entah itu perubahan gender karakter, representasi etnis, atau seperti kasus ini, referensi pada kata ganti, hal-hal tersebut kerap memicu reaksi keras dari berbagai kelompok.
Fenomena ini menunjukkan betapa sensitifnya audiens terhadap bagaimana waralaba kesayangan mereka diinterpretasikan ulang di era modern. Bagi sebagian orang, ini adalah tentang menjaga kemurnian visi asli; bagi yang lain, ini adalah kesempatan untuk memperbarui cerita agar lebih inklusif dan merefleksikan nilai-nilai saat ini.
Opini Nontonyo TV: Lebih dari Sekadar Lelucon?
Debat mengenai lelucon kata ganti He-Man ini mungkin terlihat sepele di permukaan, namun ia mencerminkan ketegangan yang lebih besar dalam lanskap budaya kita. Apakah referensi tersebut memang sebuah upaya disengaja untuk menyuntikkan "wokeism" atau sekadar upaya humor yang disalahpahami, dampak yang ditimbulkannya nyata. Bagi Nontonyo TV, kami percaya bahwa di balik setiap kontroversi, ada diskusi penting yang perlu diangkat. Film Masters of the Universe ini mungkin akan menghadapi pengawasan ketat, tidak hanya dari segi kualitas produksinya, tetapi juga bagaimana ia menavigasi ekspektasi dan sentimen audiens yang terpolarisasi. Akankah film ini berhasil memuaskan penggemar lama sambil menarik penonton baru, atau justru terjebak dalam pusaran perdebatan yang tak berujung? Waktu yang akan menjawab.
Sumber Berita: Entertainment Weekly