Bikin Geleng-geleng! 'Halftime Show' Tandingan Bad Bunny Malah Jadi 'Bencana' Hiburan

Selasa, 10 Februari 2026, Februari 10, 2026
Bikin Geleng-geleng! 'Halftime Show' Tandingan Bad Bunny Malah Jadi 'Bencana' Hiburan
Bikin Geleng-geleng! 'Halftime Show' Tandingan Bad Bunny Malah Jadi 'Bencana' Hiburan (Image: Wired)

Super Bowl LX baru saja berlalu, namun gaung penampilan Bad Bunny di acara paruh waktu masih sangat terasa. Dengan energinya yang electrifying dan tata panggung memukau, Bad Bunny berhasil memukau jutaan pasang mata di seluruh dunia, meninggalkan kesan mendalam yang sulit dilupakan. Namun, di tengah gemerlapnya pesta olahraga terbesar Amerika tersebut, sebuah 'alternatif' acara paruh waktu mencoba mencuri perhatian, yang ironisnya, justru berakhir jadi bahan tertawaan.

'All-American Halftime Show': Dari Amarah ke Kekecewaan

Berawal dari rasa "amarah" terhadap pilihan Bad Bunny sebagai penampil utama Super Bowl, sebuah organisasi bernama Turning Point USA berinisiatif menggelar acara tandingan bertajuk "The All-American Halftime Show". Konon, acara ini digagas sebagai respons atas anggapan bahwa Bad Bunny tidak merepresentasikan nilai-nilai "Amerika sejati". Namun, alih-alih menjadi tandingan yang patut diperhitungkan, acara ini malah jadi parade kegagalan yang bikin geleng-geleng kepala.

Menurut laporan dari WIRED, acara yang diadakan di lokasi yang dirahasiakan ini hanya dihadiri oleh kurang dari 200 orang. Sebuah angka yang sangat kontras jika dibandingkan dengan puluhan ribu penonton di stadion dan jutaan penonton televisi yang menyaksikan Super Bowl. Ekspektasi tinggi yang dibangun oleh para penyelenggara seolah runtuh begitu saja, bahkan sebelum acara mencapai puncaknya.

Lip-Sync Kacau Kid Rock hingga Erika Kirk yang 'Hilang'

Salah satu momen paling disorot dari 'All-American Halftime Show' adalah penampilan Kid Rock. Sayangnya, bukan karena vokal atau aksi panggungnya yang memukau, melainkan karena kemampuan lip-sync-nya yang dinilai sangat buruk. Penonton yang sedikit itu pun seolah menyaksikan sebuah pertunjukan yang tidak siap, jauh dari kesan profesional yang diharapkan dari sebuah acara bertajuk 'halftime show'.

Tidak hanya itu, salah satu penampil yang sangat dinantikan, Erika Kirk, dilaporkan tidak muncul tanpa penjelasan yang memadai. Kehadirannya yang "MIA" (Missing In Action) menambah daftar panjang kekurangan yang membuat acara ini terasa hambar dan "dull", alias membosankan. Alih-alih menyajikan hiburan yang segar dan patriotik seperti yang dijanjikan, para penonton justru disuguhkan tontonan yang jauh dari kata "memuaskan".

Kontrasnya sangat jelas jika dibandingkan dengan performa gemilang di panggung-panggung besar lainnya. Tengok saja bagaimana Chappell Roan sukses mengguncang Grammy 2025 dengan 'Naked Dress' Mugler yang viral dan memancing perbincangan, menunjukkan bagaimana sebuah penampilan bisa benar-benar meninggalkan jejak, entah karena kontroversi atau keunikan.

Pelajaran dari Sebuah Kegagalan

Kisah 'The All-American Halftime Show' menjadi pengingat menarik tentang dinamika industri hiburan dan reaksi publik. Upaya untuk menciptakan tandingan terhadap budaya populer seringkali menemui jalan terjal jika tidak dibarengi dengan kualitas dan daya tarik yang mumpuni. Performa Bad Bunny di Super Bowl LX membuktikan bahwa keragaman dan energi baru selalu menemukan tempat di hati penonton global. Sementara itu, 'halftime show' tandingan hanya mampu menyajikan kekecewaan, sebuah bukti bahwa sensasi semata tidak cukup untuk mengimbangi daya tarik hiburan kelas dunia.

Insiden ini juga sedikit mengingatkan kita pada bagaimana interaksi antara politik dan hiburan bisa begitu pelik, seperti saat Donald Trump sempat mengancam gugat Trevor Noah gara-gara lelucon 'Pulau Epstein' di Grammy ke-67. Reaksi berlebihan terhadap sebuah penampilan atau lelucon di panggung hiburan seringkali justru berakhir bumerang, justru menyorot kegagalan pihak yang mencoba memprotes.

Opini Nontonyo TV: Lebih dari Sekadar Musik

Bagi kami di Nontonyo TV, kegagalan 'All-American Halftime Show' bukan sekadar tentang buruknya penampilan atau jumlah penonton. Ini adalah cerminan dari tantangan besar dalam mencoba mengintervensi selera publik dengan agenda tertentu. Hiburan, terutama di panggung sebesar Super Bowl, adalah tentang menyatukan, bukan memecah belah. Ketika sebuah acara dibangun di atas fondasi kemarahan dan eksklusivitas, hasilnya seringkali jauh dari harapan. Semoga kejadian ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi banyak pihak: hiburan sejati itu inklusif, berkualitas, dan mampu berbicara untuk dirinya sendiri, tanpa perlu embel-embel politik yang malah bikin sakit kepala. Masa depan pertunjukan paruh waktu harusnya merayakan keragaman dan kreativitas, bukan mencoba membatasinya.

Sumber Berita: Wired

TerPopuler