Brantley Gilbert Bela Diri Tampil di Halftime Alternatif TPUSA: Menguak Kerinduan Country di Super Bowl?

Senin, 09 Februari 2026, Februari 09, 2026
Brantley Gilbert Bela Diri Tampil di Halftime Alternatif TPUSA: Menguak Kerinduan Country di Super Bowl?
Brantley Gilbert Bela Diri Tampil di Halftime Alternatif TPUSA: Menguak Kerinduan Country di Super Bowl? (Image: Variety)
Halo, Nontonyo TVmania! Dunia hiburan kembali diramaikan dengan perdebatan sengit, kali ini datang dari panggung musik country yang bersinggungan dengan ranah politik. Penyanyi country populer, Brantley Gilbert, baru-baru ini menjadi sorotan setelah ia memutuskan untuk tampil di acara "halftime show" alternatif yang diselenggarakan oleh Turning Point USA (TPUSA), sebuah organisasi konservatif. Keputusannya ini tentu saja memicu pro dan kontra, terutama di tengah polarisasi politik yang kian terasa.

Gilbert sendiri tak tinggal diam. Ia segera memberikan pembelaan melalui media sosialnya, menegaskan bahwa niatnya tampil bukan untuk tujuan politik tertentu. Alih-alih, ia mengangkat isu yang lebih mendalam bagi penggemar musik country: absennya genre tersebut dari panggung utama Super Bowl selama lebih dari dua dekade. Sebuah klaim yang menarik perhatian banyak pihak, mengingat Super Bowl selalu menjadi salah satu panggung terbesar bagi para musisi untuk menjangkau audiens global.

Kontroversi di Balik Panggung Alternatif TPUSA


Turning Point USA dikenal sebagai kelompok advokasi konservatif di Amerika Serikat. Keputusan mereka untuk menyelenggarakan acara 'halftime show' alternatif saat momen Super Bowl berlangsung memang menjadi manuver yang cukup berani, dan bagi sebagian orang, sarat akan pesan politik. Dengan menggaet Brantley Gilbert, TPUSA berhasil menciptakan gaung tersendiri di luar pertunjukan utama yang biasanya menjadi pusat perhatian.

Reaksi terhadap partisipasi Gilbert pun beragam. Ada yang mendukung keputusannya, melihatnya sebagai upaya untuk memberikan ruang bagi musik country. Namun, tak sedikit pula yang mengkritik, menudingnya telah 'terpeleset' ke dalam pusaran politik dan berpotensi mengasingkan sebagian penggemar.

Pembelaan Brantley Gilbert: Lebih dari Sekadar Politik


Dalam pernyataannya, Brantley Gilbert menjelaskan alasan utamanya menerima tawaran tersebut. "Saya tidak bermain di acara ini untuk menjadi politik," tegas Gilbert. Ia kemudian melanjutkan, "Sudah lebih dari 20 tahun sejak Super Bowl menampilkan 'halftime show' musik country."

Pernyataan ini bukan sekadar pembelaan diri, melainkan juga sebuah kritik tersirat terhadap dominasi genre lain di panggung Super Bowl. Bagi pecinta musik country, absennya genre ini di salah satu acara paling banyak ditonton di dunia memang menjadi sebuah ironi. Gilbert, dengan keputusannya ini, seolah ingin menyuarakan kerinduan jutaan penggemar akan hadirnya kembali suara-suara country di panggung megah tersebut. Ini mengingatkan kita pada bagaimana seorang artis bisa menjadi pusat perhatian di acara besar, seperti ketika Chappell Roan Guncang Grammy 2025 dengan 'Naked Dress' Mugler yang juga menjadi sensasi viral dan memicu perbincangan luas.

Dengan demikian, Gilbert mencoba mengalihkan fokus dari dugaan keberpihakan politik menjadi sebuah pernyataan artistik dan industri. Ia ingin menunjukkan bahwa musik country layak mendapatkan tempat yang sama di panggung-panggung besar, seperti Super Bowl, yang seringkali didominasi oleh genre pop, R&B, atau hip-hop.

Implikasi dan Masa Depan Musik Country di Panggung Besar


Insiden Brantley Gilbert dan TPUSA ini membuka kembali diskusi penting mengenai peran musik dan hiburan dalam lanskap sosial-politik saat ini. Apakah seorang artis bisa benar-benar memisahkan seni dari afiliasi politik ketika tampil di panggung yang memiliki konotasi tertentu? Atau apakah penonton harus lebih toleran terhadap pilihan artis dan fokus pada pesan artistik yang ingin disampaikan?

Dari sisi musik country, pembelaan Gilbert bisa jadi merupakan sebuah seruan untuk pengakuan yang lebih besar. Jika benar sudah lebih dari dua dekade genre ini absen dari panggung Super Bowl, maka sudah saatnya pihak penyelenggara mempertimbangkan kembali keberagamannya. Musik country memiliki basis penggemar yang sangat loyal dan luas, dan memberikan panggung bagi mereka tentu akan disambut baik.

Sebagai Jurnalis Film Senior Nontonyo TV, saya melihat kejadian ini sebagai cerminan bagaimana para seniman kini dituntut untuk menyeimbangkan antara ekspresi artistik, harapan penggemar, dan potensi implikasi politik. Di era media sosial, setiap pilihan yang dibuat oleh seorang selebriti dapat dengan cepat menjadi bahan perbincangan global, memicu gelombang dukungan maupun kritik. Patut kita tunggu, apakah setelah 'seruan' Brantley Gilbert ini, kita akan melihat lebih banyak musisi country di panggung Super Bowl di masa mendatang, atau apakah perdebatan ini justru akan semakin mempertegas garis pemisah antara seni dan politik.

Sumber Berita: Variety

TerPopuler