Festival Film Berlin diguncang oleh sebuah "bom bau" berbintang yang mendarat di tengah-tengah keramaian. Film terbaru berjudul Rosebush Pruning, yang dibintangi oleh nama-nama besar Hollywood seperti Callum Turner, Riley Keough, dan Elle Fanning, justru menuai kritik pedas. Sebagaimana dilaporkan oleh Vulture, film ini disebut-sebut "entah bagaimana membuat kegilaannya membosankan." Sebuah pukulan telak bagi sebuah produksi yang awalnya digadang-gadang akan menarik perhatian.
Sekilas Tentang 'Rosebush Pruning' dan Inspirasinya
Rosebush Pruning, yang juga dikenal dengan judul The Shrouds, merupakan karya terbaru dari sutradara legendaris David Cronenberg. Film ini mengambil inspirasi dari klasik Italia tahun 1965 karya Marco Bellocchio, Fists in the Pocket. Namun, tampaknya inspirasi tersebut tidak berhasil diterjemahkan menjadi sebuah karya yang memuaskan. Vulture bahkan berkomentar sinis, "...terusterang, saya pikir Bellocchio harus diizinkan untuk memburu orang-orang yang membuatnya untuk olahraga." Sebuah pernyataan yang sangat menggambarkan betapa kuatnya kekecewaan para kritikus terhadap film ini.
Berikut adalah detail singkat mengenai film Rosebush Pruning:
| Judul | Genre | Pemain Utama | Sutradara |
|---|---|---|---|
| Rosebush Pruning (The Shrouds) | Drama, Thriller, Sci-Fi | Callum Turner, Riley Keough, Elle Fanning | David Cronenberg |
Reaksi Kritikus: "Kegilaan yang Membosankan"
Penerimaan yang sangat dingin terhadap Rosebush Pruning di Berlin tentu menjadi topik hangat. Para kritikus, yang biasanya memuji keberanian dan visi sinematik Cronenberg, kali ini justru merasa dikecewakan. Istilah "kegilaan yang membosankan" menjadi inti dari banyak ulasan, menunjukkan bahwa meskipun film ini mencoba menyajikan narasi yang tidak konvensional, eksekusinya justru gagal menarik perhatian atau bahkan memprovokasi pemikiran.
Film ini seharusnya menjadi daya tarik utama dengan jajaran pemainnya yang memukau. Callum Turner, yang telah menunjukkan kemampuannya dalam berbagai peran, bersama Riley Keough, seorang aktris dengan rentang akting yang luas, dan Elle Fanning yang selalu memukau, diharapkan dapat mengangkat kualitas film. Namun, deskripsi "star-studded stink bomb" mengindikasikan bahwa bahkan kehadiran mereka tidak mampu menyelamatkan film dari kritik keras. Fenomena seperti ini bukanlah hal baru di industri perfilman, di mana terkadang ekspektasi tinggi justru berujung pada kekecewaan besar. Ini mengingatkan kita pada bagaimana kontroversi dan ketidaksepakatan sering kali mewarnai dunia hiburan, mirip dengan kasus kontroversi Jonny Greenwood dan Paul Thomas Anderson terkait musik film 'Phantom Thread', di mana perbedaan pandangan bisa memicu perdebatan sengit.
Mengapa Film Ini Gagal? Sebuah Analisis Awal
Meskipun detail plot lengkap belum tersebar luas, dari deskripsi "membuat kegilaannya membosankan," kita bisa berspekulasi beberapa hal. Mungkin ada masalah dalam tempo penceritaan, di mana alur cerita yang seharusnya intens atau eksperimental justru terasa lambat dan tidak bertenaga. Atau, bisa jadi visi artistik Cronenberg kali ini terlalu abstrak atau kurang terhubung dengan penonton umum, bahkan untuk standar festival film. Kehadiran bintang-bintang besar mungkin juga meningkatkan ekspektasi yang terlalu tinggi, sehingga ketika film tidak memenuhi standar tersebut, kekecewaan menjadi lebih besar.
David Cronenberg sendiri dikenal sebagai sutradara dengan gaya khas yang seringkali mengangkat tema body horror dan eksplorasi psikologis yang gelap. Film-filmnya kerap memicu diskusi dan terkadang kontroversi. Namun, kali ini, kritik tampaknya lebih fokus pada kegagalan dalam eksekusi daripada kontroversi tematik, yang mengindikasikan bahwa ini mungkin merupakan salah satu 'misstep' langka dalam karier sang maestro.
Pandangan Nontonyo TV: Sebuah Pelajaran Berharga
Kritik pedas yang diterima Rosebush Pruning adalah pengingat bahwa bahkan dengan sutradara sekaliber David Cronenberg dan jajaran aktor papan atas, sebuah film tetap berisiko untuk tidak diterima dengan baik. Ini menunjukkan bahwa formula "bintang besar + sutradara terkenal" tidak selalu menjamin kesuksesan artistik atau kritis. Namun, sejarah juga membuktikan bahwa beberapa film yang awalnya dicerca di kemudian hari bisa menemukan audiensnya dan menjadi kultus klasik. Pertanyaannya, apakah Rosebush Pruning akan bernasib sama? Atau akankah film ini menjadi catatan kaki yang dilupakan dalam karier gemilang para pembuatnya? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: film ini telah berhasil mencuri perhatian di Berlin, meskipun dengan alasan yang kurang mengenakkan.
Sumber Berita: Vulture