Los Angeles kembali menjadi sorotan dunia hiburan saat gelaran akbar Grammy Awards 2026 sukses diselenggarakan. Seperti biasa, karpet merah Grammy adalah ajang para bintang unjuk gigi dengan busana terbaik mereka. Namun, di balik kilauan glamor dan gaya personal yang memukau dari nama-nama besar seperti Sabrina Carpenter, Chappell Roan, Olivia Dean, hingga Miley Cyrus, terselip sebuah pesan politik yang kuat dan tak terduga: pin bertuliskan "ICE OUT".
Fashion yang Bicara: Dari Sabrina hingga Miley
Sejak awal, perhatian tertuju pada gaya unik dan berani para musisi yang hadir. Sabrina Carpenter memukau dengan pilihan busananya yang elegan namun tetap chic, sementara Chappell Roan tampil ikonik dengan gaya flamboyannya yang selalu berhasil mencuri perhatian. Miley Cyrus, seperti biasa, tampil percaya diri dengan gaya khasnya yang berani dan tak terduga. Olivia Dean juga tak kalah mencuri pandang dengan penampilannya yang menawan. Masing-masing artis ini berhasil memadukan selera mode pribadi mereka dengan identitas musikal yang kuat, menciptakan sebuah parade visual yang tak terlupakan di karpet merah.
Namun, di tengah-tengah perayaan mode dan musik ini, ada agenda yang lebih besar yang diusung oleh beberapa bintang. Mereka tidak hanya datang untuk menerima penghargaan atau merayakan kesuksesan, tetapi juga untuk menyuarakan keprihatinan sosial.
"ICE OUT": Suara Kritis dari Panggung Musik
Pesan politik paling mencolok datang dari beberapa artis yang terlihat mengenakan pin bertuliskan "ICE OUT". Ini bukanlah sekadar aksesori mode biasa, melainkan sebuah pernyataan tegas yang menyasar kritik terhadap kebijakan dan tindakan Imigrasi dan Penegakan Bea Cukai Amerika Serikat (U.S. Immigration and Customs Enforcement - ICE).
Kehadiran pin ini di karpet merah Grammy, salah satu panggung terbesar di dunia, menunjukkan bagaimana para seniman semakin berani menggunakan platform mereka untuk advokasi sosial dan politik. Nama-nama seperti Kehlani dan Joni Mitchell, di antara sejumlah artis lainnya, terlihat mengenakan pin tersebut, memperjelas bahwa isu-isu kemanusiaan dan keadilan imigrasi tetap menjadi perhatian serius di kalangan komunitas selebriti.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru di dunia hiburan. Nontonyo TV sebelumnya juga pernah mengulas bagaimana musisi seperti Bruce Springsteen dan My Morning Jacket bersuara lantang melawan kekerasan ICE dalam gelombang protes di panggung musik. Ini menunjukkan konsistensi para seniman dalam menggunakan platform mereka untuk isu-isu sosial, bahkan di tengah-tengah acara penghargaan yang paling glamor sekalipun.
Lebih dari Sekadar Hiburan: Ketika Penghargaan Bertemu Aktivisme
Grammy Awards 2026 sekali lagi membuktikan bahwa acara penghargaan tidak hanya berfungsi sebagai ajang perayaan prestasi artistik, tetapi juga sebagai sebuah forum penting untuk dialog sosial dan politik. Para artis, dengan pengaruh dan visibilitas mereka, memiliki kekuatan untuk mengarahkan perhatian publik pada isu-isu krusial yang mungkin terlewatkan dalam hiruk-pikuk pemberitaan sehari-hari.
Pin "ICE OUT" adalah pengingat bahwa di balik gemerlap lampu sorot dan gaun desainer, ada hati nurani yang berbicara, menuntut keadilan, dan mendesak perubahan. Ini adalah bukti bahwa seni dan aktivisme bisa berjalan beriringan, memperkaya makna sebuah perayaan dan memberikan resonansi yang lebih dalam bagi penonton di seluruh dunia.
Sebagai Jurnalis Film Senior Nontonyo TV, saya melihat tren ini akan terus berlanjut. Semakin banyak artis yang menyadari kekuatan platform mereka untuk membawa perubahan positif. Grammy 2026 telah menunjukkan bahwa karpet merah bukan lagi sekadar tempat untuk menampilkan busana, melainkan panggung untuk menggemakan suara-suara yang perlu didengar. Ini adalah evolusi penting dalam dunia hiburan, di mana hiburan tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi dan memprovokasi pemikiran.
Sumber Berita: NBC News