Reaksi Pedas Jimmy Kimmel dan Stephen Colbert Terhadap Pidato Kontroversial Donald Trump: 'Raja Gila yang Ingin Berkuasa!'

Jumat, 27 Februari 2026, Februari 27, 2026
Reaksi Pedas Jimmy Kimmel dan Stephen Colbert Terhadap Pidato Kontroversial Donald Trump: 'Raja Gila yang Ingin Berkuasa!'
Reaksi Pedas Jimmy Kimmel dan Stephen Colbert Terhadap Pidato Kontroversial Donald Trump: 'Raja Gila yang Ingin Berkuasa!' (Image: Rolling Stone)

Pembawa acara late-night show Hollywood kembali menunjukkan taringnya dalam menyikapi isu politik terkini. Kali ini, Donald Trump menjadi sasaran empuk kritik pedas setelah pidato State of the Union yang panjang dan penuh kontroversi. Jimmy Kimmel, Stephen Colbert, dan Jimmy Fallon adalah tiga di antara banyak host yang tak melewatkan kesempatan untuk menyoroti pidato yang mereka sebut sebagai “penuh ketakutan” dan “mengoceh” tersebut.

Pidato Donald Trump yang disampaikan di hadapan para anggota parlemen berlangsung selama 108 menit, menjadikannya salah satu yang terlama. Kontennya, yang diwarnai oleh retorika yang agresif dan klaim-klaim kontroversial, segera menjadi bahan bakar utama bagi para komedian dan satirikus di televisi malam.

Jimmy Kimmel: Kritik Blusukan Sang 'Raja Gila'

Jimmy Kimmel, dalam acaranya Jimmy Kimmel Live!, tak sungkan melontarkan kritik pedasnya. Dengan gayanya yang khas, Kimmel secara terang-terangan menyebut Trump sebagai “Nut Job Wannabe King” atau “Raja Gila yang Mau Berkuasa.” Sebuah julukan yang dengan cepat menyebar dan menjadi viral di media sosial. Kimmel menyoroti bagaimana pidato tersebut, alih-alih menyatukan, justru memperdalam polarisasi. Ia juga mengolok-olok durasi pidato yang kelewat panjang, menyiratkan bahwa Trump menikmati setiap detik perhatian yang ia dapatkan, terlepas dari substansi yang disampaikan.

Kimmel dengan jeli menangkap ekspresi dan gestur Trump yang dianggapnya berlebihan, mengubahnya menjadi bahan lelucon yang menusuk. Komentar-komentar Kimmel sering kali memicu tawa penonton, namun di balik itu tersimpan pesan kuat mengenai pandangannya terhadap kepemimpinan dan retorika politik yang ia nilai meresahkan.

Stephen Colbert: Sarkasme Cerdas untuk Pidato 'Menebar Ketakutan'

Tak kalah tajam, Stephen Colbert di The Late Show with Stephen Colbert juga menggunakan sarkasme dan analisis cerdasnya untuk menguliti pidato Trump. Colbert dikenal dengan kemampuannya mengombinasikan humor dengan kritik politik yang mendalam, dan kali ini ia melakukannya dengan brilian. Ia menggambarkan pidato Trump sebagai upaya “menebar ketakutan,” mencatat bagaimana pidato tersebut berulang kali mencoba membangkitkan kekhawatiran dan ketidakpastian di kalangan publik.

Colbert menyajikan potongan-potongan pidato Trump yang paling provokatif dan menganalisanya dengan gaya komedi, menyoroti inkonsistensi dan klaim yang dipertanyakan. Reaksi seperti ini dari para pembawa acara late-night memang sudah menjadi tradisi di Amerika, di mana humor seringkali digunakan sebagai alat untuk mengkritisi kekuasaan dan membuka diskusi publik. Ini mengingatkan kita pada bagaimana berbagai pihak, termasuk institusi seni, bisa bereaksi keras terhadap keputusan atau sosok yang terkait dengan politik, seperti yang pernah kami ulas dalam artikel 'Geger di Kennedy Center: Staf Murka, Sebut Rencana "Stupid and Cruel" dari Presiden Utusan Trump!'.

Jimmy Fallon dan Peran Komedi dalam Politik

Meskipun mungkin tidak sepedas Kimmel atau Colbert, Jimmy Fallon di The Tonight Show Starring Jimmy Fallon juga memberikan responsnya. Fallon, yang seringkali dikenal dengan gaya humornya yang lebih ringan dan berfokus pada hiburan murni, tetap tak bisa mengabaikan momen politik sebesar State of the Union. Responsnya, meski mungkin lebih ke arah observasi lucu ketimbang kritik tajam, tetap menunjukkan bagaimana peristiwa politik besar selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari lanskap late-night television.

Peran late-night show sebagai penyeimbang, bahkan sebagai "media alternatif" dalam memberikan pandangan berbeda terhadap narasi politik, semakin relevan di era informasi yang serba cepat ini. Para pembawa acara ini, dengan jutaan penonton setia, memiliki kekuatan untuk membentuk opini dan mendorong dialog, terkadang dengan cara yang jauh lebih efektif daripada berita konvensional. Tak jarang, karir mereka sebagai figur publik di televisi juga menjadi sorotan, seperti ketika Savannah Guthrie dikabarkan mempertimbangkan hengkang dari 'Today' yang sempat mengejutkan banyak pihak, menunjukkan betapa dinamisnya dunia media dan figur publik ini.

Opini Nontonyo TV

Reaksi kolektif dari para host late-night ini mempertegas posisi mereka bukan hanya sebagai penghibur, tetapi juga sebagai komentator sosial dan politik yang berpengaruh. Di tengah hiruk pikuk informasi, sentuhan humor dan kritik cerdas ala Kimmel dan Colbert menjadi oase bagi banyak orang yang mencari perspektif lain, atau sekadar ingin tertawa atas kegilaan yang terjadi. Fenomena ini diprediksi akan terus berlanjut, mengingat polarisasi politik yang semakin tajam. Mungkin, di masa depan, garis antara hiburan dan berita politik akan semakin kabur, dengan para komedian ini mengambil peran yang lebih sentral dalam membentuk narasi publik. Bagaimanapun, satu hal yang pasti: selama ada peristiwa politik kontroversial, para host late-night akan selalu siap dengan lelucon dan kritik tajam mereka.

Sumber Berita: Rolling Stone

TerPopuler