Dunia hiburan kembali dikejutkan dengan pengakuan blak-blakan dari salah satu mantan idola remaja, Hilary Duff. Dalam penampilannya di podcast populer “Call Her Daddy” baru-baru ini, Duff akhirnya mengonfirmasi rumor lama yang telah beredar selama bertahun-tahun: bahwa ia memang sengaja datang dan 'merusak' premiere film “Freaky Friday” yang dibintangi oleh rival masa kecilnya, Lindsay Lohan, pada Agustus 2003.
Masa Lalu Penuh Rivalitas: Duff vs. Lohan
Bagi generasi 90-an dan awal 2000-an, nama Hilary Duff dan Lindsay Lohan adalah sinonim dengan ‘teen queen’ yang mendominasi layar kaca dan bioskop. Keduanya berada di puncak karier saat itu, Duff dengan serial “Lizzie McGuire” dan Lohan dengan film-film komedi remaja yang ikonik. Namun, di balik gemerlap popularitas, tersimpan sebuah rivalitas yang cukup sengit dan menjadi santapan media tabloid kala itu. Duff bahkan menyebut Lohan sebagai 'musuh bebuyutan' dan 'nemesis' di masa kecilnya. Persaingan ini semakin meruncing karena keduanya sempat dikabarkan bersaing memperebutkan perhatian Aaron Carter, yang semakin menambah bumbu drama.
Ketegangan antara dua bintang muda ini mencapai puncaknya menjelang rilis “Freaky Friday”, film yang melambungkan nama Lohan ke kancah Hollywood lebih jauh. Publik saat itu berspekulasi tentang hubungan keduanya, namun detail sebenarnya tidak pernah dikonfirmasi secara langsung, hingga kini.
Insiden Premiere yang Kini Jadi Legenda Hollywood
Pada bulan Agustus 2003, sorot lampu dan karpet merah terhampar untuk premiere “Freaky Friday”, sebuah momen krusial bagi karier Lindsay Lohan. Namun, di tengah kemeriahan itu, Hilary Duff tiba-tiba muncul. Bukan sebagai tamu undangan biasa, melainkan dengan agenda tersendiri. Duff, dengan gamblang, mengakui bahwa kedatangannya adalah bentuk protes atau setidaknya upaya untuk mengalihkan perhatian dari Lohan, sebagai manifestasi dari permusuhan masa kecil mereka.
“Ya, saya melakukannya. Saya seperti, ‘Brengsek, saya akan pergi ke premierenya,’” ungkap Duff dalam podcast tersebut, menjelaskan niatnya yang jelas saat itu. Tindakan ini, yang dulunya hanya sekadar rumor dan spekulasi liar, kini terbukti sebagai kebenaran yang mengejutkan banyak penggemar.
Damai di Balik Gelas: Pertemuan yang Mengubah Segalanya
Untungnya, cerita perseteruan ini tidak berakhir pahit. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia, kedua aktris ini berhasil menemukan jalan untuk berdamai. Duff menceritakan bagaimana ia dan Lohan akhirnya 'bertemu' dan menyelesaikan perselisihan mereka.
“Kami bertemu di suatu tempat. Kami mengadakan beberapa shots. Saya tidak yakin apa yang terjadi, tetapi kami baik-baik saja setelah itu,” kenang Duff. Momen 'perdamaian' ini, yang terjadi secara spontan dan mungkin sedikit di bawah pengaruh alkohol, menandai berakhirnya salah satu rivalitas paling terkenal di Hollywood era 2000-an. Kisah perseteruan selebriti yang kemudian mereda ini sedikit mengingatkan kita pada kasus kontroversial yang pernah kami sorot, seperti skandal yang menyeret nama Michael Feldman di tengah pusaran kasus Johnny Depp-Amber Heard, di mana narasi publik tentang hubungan para pesohor seringkali kompleks dan berkembang seiring waktu.
Pandangan Kami di Nontonyo TV
Pengakuan Hilary Duff ini tidak hanya menguak tabir di balik gosip lama, tetapi juga menunjukkan bagaimana para selebriti, sama seperti kita, tumbuh dan belajar dari masa lalu mereka. Rivalitas di masa muda seringkali dipicu oleh ego dan tekanan industri, namun kemampuan untuk berdamai dan melanjutkan hidup adalah tanda kedewasaan. Pengakuan ini juga menunjukkan bagaimana dinamika hubungan di Hollywood bisa begitu kompleks, sebuah topik yang sering kami bahas, bahkan ketika mengulas sisi lain dari penghormatan untuk Eric Dane yang mengungkap detail tak terduga.
Mungkin ada banyak lagi 'rahasia' dari era kejayaan mereka yang belum terungkap, dan menarik untuk melihat apakah pengakuan Duff ini akan mendorong bintang-bintang lain untuk berbagi cerita serupa. Yang jelas, kisah Duff dan Lohan adalah pengingat bahwa di balik gemerlap lampu sorot, ada cerita-cerita personal tentang persahabatan, persaingan, dan akhirnya, perdamaian yang layak untuk dikenang.
Sumber Berita: Variety