Dunia hiburan kembali dikejutkan dengan kabar terbaru dari salah satu sutradara paling ikonik dan kontroversial di Hollywood, Quentin Tarantino. Setelah lama berteori tentang film ke-10 dan terakhirnya, sang maestro tiba-tiba mengumumkan proyek terbarunya yang jauh dari layar lebar: sebuah komedi panggung bertajuk "The Popinjay Cavalier".
Berita ini datang langsung dari mulut Tarantino sendiri, yang mengungkapkan kepada BBC bahwa ia akan menulis dan menyutradarai sebuah “komedi rambunctious” berlatar Eropa tahun 1830-an. Proyek ini akan dipentaskan di panggung teater London, menandai sebuah langkah berani dan tak terduga dalam karier sang pembuat film yang selama ini dikenal lewat karya-karya sinematiknya yang khas.
Sebuah Awal Baru di Panggung Teater
"Ini benar-benar hal selanjutnya yang akan saya lakukan," ujar Tarantino, menegaskan komitmennya terhadap proyek teater ini. "Kami akan mulai mempersiapkannya pada bulan Januari. Ini mungkin akan memakan waktu satu setengah hingga dua tahun dari hidup saya, jika berhasil dan saya..." kutipan tersebut terhenti, namun menyiratkan dedikasi penuhnya. Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa "The Popinjay Cavalier" bukan sekadar proyek sampingan, melainkan sebuah investasi waktu dan kreatifitas yang signifikan dari sutradara peraih Oscar ini.
Genre "swashbuckling comedy" atau komedi petualangan dengan nuansa heroik ksatria ini tentu menarik perhatian. Mengingat gaya khas Tarantino yang seringkali brutal, berdialog tajam, dan penuh referensi budaya pop, adaptasinya ke dalam format komedi panggung abad ke-19 akan menjadi eksperimen yang patut ditunggu. Penggemar tentu penasaran bagaimana sentuhan khasnya akan terwujud dalam medium yang berbeda ini, jauh dari adegan baku tembak epik atau monolog panjang yang menjadi ciri khas film-filmnya.
Implikasi Terhadap "Film Terakhir" Tarantino
Kabar ini juga secara otomatis memicu pertanyaan mengenai film kesepuluh dan terakhir yang selalu menjadi topik hangat. Tarantino telah lama menyatakan niatnya untuk pensiun dari dunia penyutradaraan film setelah membuat sepuluh film, dengan "Once Upon a Time in Hollywood" (2019) menjadi film kesembilannya. Apakah "The Popinjay Cavalier" ini adalah pengalih perhatian sementara, atau justru mengindikasikan bahwa film terakhirnya masih akan sangat lama terwujud? Atau mungkin, ini adalah caranya untuk mengeksplorasi narasi tanpa tekanan ekspektasi "film terakhir"?
Para jurnalis dan penggemar telah lama memprediksi dan berspekulasi tentang proyek film terakhirnya, mulai dari sekuel, spin-off, hingga ide-ide orisinal baru. Kini, tampaknya perhatian harus bergeser sejenak ke panggung teater London. Dedikasi yang diungkapkan Tarantino, yakni satu setengah hingga dua tahun, menunjukkan bahwa proyek ini bukanlah main-main, dan kemungkinan besar akan menunda proses pengerjaan film berikutnya.
Kesibukan para sutradara dan aktor papan atas memang selalu menjadi sorotan. Mengingat bagaimana komitmen terhadap suatu proyek bisa mempengaruhi jadwal mereka, kita teringat pada kabar mengenai Leonardo DiCaprio yang absen dari penghargaan karena syuting film Martin Scorsese. Hal ini menunjukkan betapa padatnya agenda para talenta di industri ini, termasuk bagi seorang sutradara sekelas Tarantino.
Prediksi dan Opini Nontonyo TV
Sebagai Jurnalis Film Senior Nontonyo TV, kami melihat langkah Tarantino ini sebagai upaya yang sangat menarik untuk melebarkan sayap kreatifnya. Melepas diri dari batasan medium film dan mencoba teater dengan genre komedi "swashbuckling" abad ke-19 menunjukkan keberanian dan keinginan untuk terus berinovasi. Ini bisa menjadi penyegaran bagi Tarantino sendiri, memberikan perspektif baru yang mungkin akan ia bawa kembali ke layar lebar jika dan ketika ia memutuskan untuk membuat film kesepuluh.
Kami memprediksi bahwa "The Popinjay Cavalier" akan menjadi sensasi di kancah teater London, menarik perhatian tidak hanya dari penikmat teater, tetapi juga jutaan penggemar Tarantino di seluruh dunia. Pertanyaannya adalah, apakah ia akan membawa aktor-aktor langganannya ke panggung? Atau akankah ini menjadi ajang bagi talenta-talenta teater baru? Yang jelas, dunia siap untuk kembali terpukau oleh sentuhan magis Quentin Tarantino, kali ini di atas panggung.
Sumber Berita: BBC News